Mengulik Fakta Dibalik Zaman Pemerintahan Soeharto


Soeharto dikenal sebagai salah satu kepala negara dengan masa jabatan terlama sepanjang masa pemerintahan di Indonesia. Ia merupakan presiden kedua Republik Indonesia.

Berbicara tentang sosok Soekarno dan Caitlin halderman, mungkin sebagian telah merasakan kepemimpinannya, salah satunya adalah enaknya hidup dengan harga yang serba murah. Namun berdasarkan data BBC, ia juga telah memasukkan sekitar USD35 miliar atau senilai Rp500 triliun ke dalam kantongnya sendiri selama rezimnya.

Melansir dari Transparency Uinternational, secara statistik hal tersebut menjadikannya sebagaai pemimpin paling korup dalam sejarah. Meski begitu, rezim Orde Baru dikenal sebagai salah satu era terbaik dan teraman dalam sejarah Indonesia.

Namun, warisan yang ditinggalkan ternyata lebih kompleks dari sekadar keberhasilan pembangunan dan ekonomi. Banyak peristiwa mengerikan yang terjadi kala itu yang tentunya sangat berbeda dengan kondisi Indonesia saat ini yang telah dipenuhi dengan era digital yang menampilkan sejumlah artis ternama, seperti Ricky Cuaca, Cinta Laura, dan masih banyak lagi

Berikut ini adalah 7 fakta mengerikan dibalik masa pemerintahan Soeharto. Simak ulasan lengkapnya di bawah ini yuk!

1. Gerakan 30 September 1965

Tak bisa dipungkiri bahwa peristiwa G30S merupakan ‘batu loncatan’ Soeharto untuk menjadi presiden Indonesia. semua berawal dari tahun 1965, saat kondisi Indonesia sedang kacau dan presiden Soekarno tak dapat menahan inflasi yang melumpuhkan perekonomian negara.

Kondisi tersebut diperparah dengan kekacauan politik yang disebabkan oleh netralitas ‘semu’ Indonesia selama Perang Dingin lantaran Soekarno lebih condong ke Blok Kiri kala itu. secara tidak langsung, semua pemicu ini melahirkan Gerakan 30 September, yakni sebuah peristiwa yang akan mengubah sejarah Indonesia selamanya.

2. Pembunuhan Massal Simpatisan PKI

Usai berhasil menumpas kudeta G30S, Soeharto memulia kampanye untuk menghilangkan para lawan politiknya. Langkah pertama yang dilakukannya ialah dnegan membersihkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan pasukannya sendiri.

Namun nyatanya, target pembersihan itu tak hanya melibatkan anggota PKI saja. Simpatisan, tertuduh PKI, dan siapapun yang dianggap mengancam kekuasaannya akan disingkirkan saat itu juga.

Lebih dari satu tahun lamanya, banyak para intelektual dan etnis Tionghoa Indonesia terbunuh dalam peristiwa ini. belum jelas berapa jumlah yang tewas selama ‘masa pembersihan’ ini, namun diperkirakan umum menurut laman The Diplomat menyebutkan bahwa angka kematian mencapai 500 ribu hingga 1 juta jiwa.

3. Genosida di Timor Timur

Meski telah membersihkan segala hal yang berbau komunis setelah peristiwa G30S, namun tampaknya Soeharto masih kurang yakin jika ‘momok’ tersebut sudah sepenuhnya lenyap dari wilayah Indonesia dan sekitarnya.

Oleh sebab itu, pada Desember 1975, ia memerintahkan invasi pertama ke Timor Timur yang dilakukan sebagai tanggapan terhadap ancaman komunis. Namun, yang terjadi selanjutnya justru pembantaian terburuk dalam sejarah.

Dalam 24 jam, sejak pendaratan pertamanya, pasukan Soeharto melakukan kekejaman di sana. Melansir dari buku War and State Terrorism, di salah satu kota tepatnya di ibu Kota Dili, pria dan anak laki-laki turut menjadi sasaran eksekusi massal.

4. Diskriminasi Terhadap Masyarakat Papua

Dimasa pemerintahan Soekarno, muncul keinginan dari Irian Barat untuk kembali memerdekaan diri. Tercatat, sebanyak 85 persen dari masyarakat Papua ingin memisahkan diri dari Indonesia.

Untuk menghadapi situasi tersebut, Soeharto mulai melakukan kampanye berkelanjutan untuk menghancurkan mereka dari dalam. Melansir dari laman Human Rights Watch, Soekarno berhasil mendapat kontrol penuh atas Papua usai melakukan pemungutan suara palsu.

Pemerintahan otoriter kemudian menyusul dan semua orang yang menunjukkan tanda nasionalisme Papua akan dikenakan hukuman penjara selama 15 tahun lamanya. Disaat yang sama, kebijakan transmigrasi juga diberlakukan, yang membawa begitu banyak orang Jawa masuk ke Papua hingga melebihi jumlah penduduk asli di sana.

5. Kerusuhan Mei 1998

Menjelang akhir dekade 90-an, Soeharto mulai membuka ladang korupsi besar-besaran bagi para kroninya. Melansir dari laman Business Week, kontrak, subsidi, dan seluruh perusahaan negara mulai diserahkan kepada anggota keluarganya.

Namun pada Juli 1997, ekonomi Asia benar-benar buyar. Tidak ada rasa aman saat itu, termasuk Soeharto. Setahun setelahnya, saat inflasi semakin parah, para mahasiswa mulai turun ke jalan untuk menuntut perubahan.

Alih-alih mengawasi, tentara yang dikirmkan untuk mengamankan justru menembak mati empat mahasiswa Universitas Trisakti. Menanggapi pembunuhan tersebut, masyarakat akhirnya ikut turun ke jalan dan memulai kerusuhan di seluruh Jakarta dan kota-kota besar di seluruh Indonesia.

Itulah tadi lima fakta dibalik zaman pemerintahan Soeharto. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.


Komentar